Ingatkah kalian pada lagu ini " nenek moyangku seorang pelaut...." Bicara soal laut Indonesia adalah Rajanya.





 1. Pantai Kuta, Bali

Siapa yang tidak tahu apa dan dimana pantai kuta berada. Ya pantai ini merupakan salah satu tempat wisata masterpiece dari bali yang terkenal hingga ke mancanegara. Bisa dibilang ini adalah surganya bagi para wisatawan yang ingin berjemur dan berselancar. Pantai ini merupakan pantai dengan pengunjung yang selalu ramai setiap harinya. Pantai kuta terletak di sebelah selatan Denpasar. Biasanya para pengunjung melakukan selancar di pantai ini karena memiliki ombak bagus. Pantai yang terletak di Kabupaten Badung ini sudah terkenal sejak tahun 1970-an dan disebut sebagai pantai matahari terbenam (sunset beach).

 2. Pantai Senggingi, Lombok 

Mungkin kebanyakan dari kita belum tahu, bahwa di Amerika Serikat ada banyak anak-anak Indonesia yang sekolah di sana. Mereka itu hebat secara akademik, dan luar biasa dalam pergaulan. Tentu, anak-anak ini dengan bangganya akan menjawab ketika ditanyai dari mana asal orang tua mereka. Maka merekapun memberi jawab, “Oh,…of course Indonesia. My parents are from Indonesia.”

Ada seorang kawan dekat saya di Amerika. Sama-sama kawanua, jadi kalau ketemu dia paling senang sama masakan Indomie goreng ala saya. Setiap mampir ke apartemen saya, tidak pernah lupa indomie goreng tersaji untuknya. Nama kawan saya itu Joutje Kaunang. Dia punya seorang anak gadis yang istimewa.

Anak kawan saya ini sungguh sangat berprestasi di Amerika. Ia boleh dibilang adalah seorang anak yang genius. Salah seorang anak yang tidak hanya membanggakan bagi kedua orang tuanya, tapi juga menjadi kebanggaan Indonesia. Paling tidak, ia sudah mengharumkan nama Indonesia. Semakin memperkenalkan Indonesia. Nah, inilah anak-anak calon agen perubahan di masa depan. Anak-anak yang dipercaya sebagai calon-calon pemimpin masa depan.

Adalah Erica Kaunang, demikian nama lengkap anaknya kawan saya tersebut. Pada saat usianya baru 7 tahun, putri dari Joutje Kaunang dan Eva Purba ini rupa-rupanya sudah mulai ‘diperhitungkan’. Saat itu ia mendapat surat khusus dari Gedung Putih atau ‘White House’. Hebatnya lagi, surat itu ditandatangani langsung oleh Presiden USA kala itu, George W Bush. Surat dari orang nomor satu di Amerika itu merupakan respon balik atas surat yang dikirim Erica untuk sang presiden. Waktu itu ia masih menjadi murid kelas 2 Publik School 199 di Queens New York. Singkat cerita, Erica mendapat tugas dari gurunya, atas persetujuan kepala sekolah tentunya, untuk menulis surat buat Presiden Bush. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Erica. Tugasnya dilakukan dengan baik. Ia pun menulis surat dimaksud.



Dalam surat itu, Erica sedikit mengkritisi sang Presiden Amerika. Dengan segala kepolosannya, Erika meminta agar Presiden Bush bisa menghentikan peperangan yang terjadi di sejumlah kawasan, ia juga meminta agar pemerintah memperbanyak saja polisi di jalan-jalan (Mungkin maksud dia, lebih baik polisi yang diperbanyak daripada tentara). Presiden Bush dalam balasannya antara lain mengatakan bahwa ia sangat menghargai dan ingin sekali mengetahui setiap pandangan dari segenap rakyat yang dipimpinnya. Ia juga mengatakan bahwa dirinya akan berusaha membuat kehidupan lebih baik dan nyaman bagi rakyat Amerika.

Erica sendiri meski masih kecil, namun sudah mengukir banyak prestasi di sekolahnya. Sejumlah penghargaan sudah diraihnya, misalnya saja penghargaan sebagai Student of The Month, Reader of The Month, Outstanding Mathematics dan masih banyak lagi. Penghargaan-penghargaan ini tidak gampang, karena harus bersaing dengan banyak siswa, baik itu siswa dari negara lain maupun yang asal Amerika sendiri.

Belum lama ini, Erica Kaunang kembali mencatat prestasi mengagumkan ketika diberikan kesempatan mengecap pendidikan di sebuah sekolah khusus untuk ‘anak-anak pintar’ yaitu di Hunter College High Scholl, yang berlokasi di jantungnya New York, Manhattan. Bahkan pun, sebuah penghargaan prestisius telah diraihnya, yaitu Gold Honor Roll. Dan ini tidak main-main, karena sudah dua tahun berturut-turut ia berhasil menggondol medali yang sama ini, yaitu sejak tahun 2012 kemarin, dan kemudian untuk tahun 2013 juga.

Gold Honor Roll ini merupakan penghargaan bagi siswa yang meraih nilai tertinggi. Mendapatkan nilai tertinggi di antara siswa-siswa genius lainnya tentu tidak mudah. Dengan kesuksesannya itu, maka foto Erica pun langsung terpampang di dinding sekolah khusus anak-anak berprestasi tersebut. Hunter College High Scholl ini merupakan sekolah khusus ‘siswa genius’ yang diseleksi departemen pendidikan setempat. Karena kepintaran dan keberhasilannya itu, kini Erica juga akhirnya dipercayakan oleh pihak sekolah untuk menjadi  editor majalah sekolah.

Ada cerita menarik yang dituturkan Joutje Kaunang, ayah Erica ini, mengenai beberapa kisah sebelum Erica terpilih. Menurut Joutje, pada tahun 2010 ketika Erica lulus bersama lebih dari 300 anak-anak pintar pilihan NYC Dept Of Education (Departemen Pendidikan New York City), untuk mengikuti tes di Hunter College High School. Test itu sendiri diikuti oleh sekitar 2.500 anak-anak pintar dari seluruh New York.

Namun saat itu si Erica sebenarnya belum berhasil lulus, karena katanya nilai Erica belum mencapai target yang ditetapkan (175 Point), di mana saat itu Erica hanya meraih 165 Point (masih kurang 10 point). Test yang dilakukan memang sangat sulit dan diambil dari mata pelajaran High School. Si Erica kecil tetap percaya diri, ia tidak langsung merasa kalah, dan tidak menjadi minder. Ia juga tidak bersedih hati. Justru dirinya terus terpacu.

Erica ternyata masih dipertimbangkan untuk lulus. Pihak sekolah kemudian mengambil kebijakan untuk tetap mengakomodir Erica di sekolah tersebut. Nah, ternyata keputusan sekolah untuk menahan Erica terbukti tepat. Karena pada tahun 2012 Erica justru menunjukkan bahwa dirinyalah yang terbaik. Saat itu ia mendapat pujian yang luar biasa dari guru-guru yang mengajar di kelasnya, termasuk dari kepala sekolah sendiri, karena ia yang hampir saja tidak lolos, toh justru yang berhasil meraih nilai paling tinggi, dan bahkan meraih Gold Honor Roll. Prestasi itu kemudian masih juga ia raih di tahun 2013 ini.

Bulan April yang lalu, Erica mendapat surat dari sekolah dan diberitahu bahwa ia mendapat permintaan dari sebuah yang sangat terkenal FORBES untuk diwawancarai melalui SKYPE. Ini memang sangat membanggakan, tidak sembarangan orang bisa masuk Majalah FORBES, dan tidak sembarangan orang akan diwawancarai FORBES. Setelah itu, beberapa hari yang lalu Erica sudah menerima raportnya di kelas istimewa itu ( Gifted and Talented Class ) dengan mendapat nilai yang fantastis, yaitu 99.07%. Prestasi demi prestasi yang diraih Erica Kaunang mestinya dapat menjadi pemacu dan pemicu bagi anak-anak Indonesia di manapun mereka berada.


Nama Tex Saverio tiba-tiba menjadi perbincangan ramai di dunia maya. Salah satu koleksi gaun musim semi 2011-nya yang pernah ditampilkan di Jakarta Fashion Week, La Glacon, mendadak muncul di Harper’s Bazaar AS. Lebih hebat lagi, sosok yang mengenakan La Glacon adalah penyanyi top dunia, Lady GaGa. Tak pelak lagi, pujian dialamatkan kepada desainer muda kelahiran 1984 itu. Siapa sebenarnya Tex Saverio?

Ia disebut sebagai Alexander McQueen-nya Indonesia. “Tak bisa tidak, kami memikirkan McQueen ketika melihat gaun ini (La Glacon),” kata selebritis blogger Perez Hilton di blog modenya, cocoperez.com. Saverio sendiri tertawa melihat dirinya dibandingkan dengan perancang terkemuka dunia itu. “Itu terlalu berlebihan. Saya tidak ada apa-apanya dibanding dia. Satu hal yang pasti, itu akan menjadi motivasi saya,” katanya di blog pribadinya, blog.texsaverio.com.

Namun siapa sangka, pemuda 26 tahun yang akrab disapa Rio itu ternyata tidak menamatkan bangku sekolahnya. Ia memilih keluar dari sekolah, agar bisa lebih cepat memulai karirnya di dunia mode. Rio memenangkan penghargaan pertamanya, Mercedes-Benz Asia Fashion Award, ketika ia baru berumur 21 tahun. Kini, lima tahun kemudian, La Glacon menjadi buah bibir di dunia mode internasional.

Tidak hanya La Glacon yang menarik minat internasional. Koleksi gaun Rio lainnya, My Courtesan, juga tak kalah dahsyatnya. My Courtesan dan La Glacon benar-benar menyedot perhatian pengunjung Jakarta Fashion Week beberapa waktu lalu. Menurut Rio, ia dapat menciptakan gaun fenomenal semacam itu karena selalu berpikir bahwa tiap rancangan memiliki jiwa tersendiri. “Ini adalah tentang jiwa. Saya ingin setiap karya saya memiliki jiwa. Itu akan membuat banyak perbedaan,” terang Rio.

 Jika sering nonton Disney Channel, barangkali Anda kenal sosok Tania Gunadi, mojang kelahiran Bandung yang kerap menghiasi acara-acara Disney Channel Amerika. Salah satunya serial komedi berjudul “Even Stevens”.

Tania sendiri tak pernah bermimpi menjadi seorang aktris. Sebagai orang yang lahir dan menghabiskan masa kecil di Indonesia, Tania mengaku punya kenangan yang menyenangkan karena dia memiliki banyak teman semasa di Indonesia.

Mojang kelahiran 29 Juli 1983 ini bercerita, dia hijrah dari Bandung ke Los Angeles  saat berusia 17 tahun. Ketika itu Tania mendapat lotere Green Card.

Di Amerika, Tania menetap di Los Angeles, California. Disana dia meneruskan sekolah sambil bekerja di salah satu cabang Pizza Hut di LA.

Cerita Tania bisa terjun ke dunia akting dimulai secara tak sengaja. Ketika masih bekerja di Pizza Hut, temannya menyuruh ikut audisi sebuah iklan komersial Disney Channel.

“Teman saya bilang, coba kamu ikut casting, mudah kok, cuma disuruh teriak saja,” kata Tania. Rupanya dalam audisi itu Tania diterima dan dia senang sekali. Begitu menerima bayaran pertama sebagai bintang iklan, Tania langsung berpikir pekerjaan ini sungguh menyenangkan, “Yang perlu kamu lakukan hanya bersenang-senang dan kamu bisa bayar sewa rumah kamu,” kata gadis yang masih fasih berbahasa Indonesia ini.
Bocah Indonesia, March Boedihardjo, mencatatkan diri sebagai mahasiswa termuda di Universitas Baptist Hong Kong (HKBU). March akan memiliki gelar sarjana sains ilmu matematika sekaligus master filosofi matematika. Karena keistimewaannya itu, perguruan tinggi tersebut menyusun kurikulum khusus untuknya dengan jangka waktu penyelesaian lima tahun(dari 2007). Ketika ditanya tentang cara beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang baru, March mengaku tidak pernah cemas berhadapan dengan teman sekelas yang lebih tua darinya. ”Ketika saya di Oxford, semua rekan sekeler saya berusia di atas 18 tahun dan kami kerap mendiskusikan tugas-tugas matematika,’’ kisahnya. March memang menempuh pendidikan menengah di Inggris. Hebatnya, dia masuk dalam kelas akselerasi, sehingga hanya perlu waktu dua tahun menjalani pendidikan setingkat SMA itu. Hasilnya, dia mendapat dua nilai A untuk pelajaran matematika dan B untuk statistik. Dia juga berhasil menembus Advanced Extension Awards (AEA), ujian yang hanya bisa diikuti sepuluh persen pelajar yang menempati peringkat teratas A-level. Dia lulus dengan predikat memuaskan. Dalam sejarah AEA, hanya seperempat peserta AEA yang bisa mendapat status tersebut.
Itulah beberapa nama orang Indonesia yang bias dikatakan jenius dan sukses dalam karir akademisnya. Mungkin bias dikatakan anda boleh jenius, tapi jika ingin sukses jangan berkarir di Indonesia. Memang miris melihat banyak orang pintar Indonesia yang tinggal dan meneliti untuk Negara lain. Tapi hal ini masuk akal karena perhatian pemerintah terhadap riset masih sangat kurang. Hal ini bias dilihat dari sikap pemerintah yang lebih sibuk menaikkan gaji pejabat dan PNS daripada menaikkan anggaran penelitian. Lebih sibuk menganggarkan dana pembelian mobil baru, gedung baru, renovasi ini itu daripada hal yang jauh lebih penting untuk perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Kalo buat naikin ID kami sih masih dapat diampuni.

Johny Setiawan membuat mata dunia tercengang dengan penemuan planet pertama yang mengelilingi bintang baru TW Hydrae. Penemuan itu sangat spektakuler karena dari 270 planet di luar tata surya yang telah ditemukan astronom dalam 12 tahun terakhir, tak satu pun planet yang muncul dari bintang muda. Johny yang memimpin tim peneliti di Max Planck Institute for Astronomy (MPIA), Heidelberg, Jerman itu menemukan planet pertama yang disebut TW Hydrae b dan bintang baru TW Hydrae dengan menggunakan teleskop spektrograf F EROS sepanjang 2,2 meter di La Silla Observatory, Chile.

 Setamat SMA, pada 1992–1993,Johny mengenyam pendidikan pra-universitas di Studienkolleg Heidelberg,Jerman. Johny kemudian mempelajari Fisika di Albert-Ludwigs-Universitat, Freiburg, Jerman, dan mengambil Master di Kiepenheuer-Institute for Solar Physics, Freiburg. Disertasinya di Kiepenheuer-Institute for Solar Physics, Freiburg, berjudul Radial velocity variation of G and K Giants.

 Sejak Juni 2003, Johny bekerja sebagai peneliti post-doctoral di MPIA, di Department of Planet and Star Formation (Prof. Dr.Thomas Henning). Wilayah risetnya saat ini meliputi planet-planet di luar tata surya di sekitar bintangbintang muda dan bintang-bintang yang sedang terbentuk. Selain itu,Johny yang tinggal di Bintaro Sektor IX ini juga meneliti atmosfer yang berperan sebagai bintang.

 Prestasi membanggakan ditorehkan Profesor Dr. Ken Kawan Soetanto. Pria kelahiran Surabaya ini berhasil menggondol gelar profesor dan empat doktor dari sejumlah universitas di Jepang. Lebih hebatnya, puncak penghargaan akademis itu dicapainya pada usia 37 tahun. ia sudah mematenkan 31 penemuannya, 29 di Jepang, dua di AS, untuk bidang interdisipliner ilmu elektronika, kedokteran, dan farmasi.
Sebegitu terkenalnya Soetanto di Jepang sampai-sampai oleh mahasiswanya ia memiliki metode khusus mengajar yang diberi nama “Metode Soetanto” atau “Efek Soetanto”. Pada 1988-1993, dia tercatat sebagai direktur Clinical Education and Science Research Institute (CERSI) merangkap associate professor di Drexel University dan School Medicine at Thomas Jefferson University, Philadelphia, AS. Dia juga pernah tercatat sebagai profesor di Biomedical Engineering, Program University of Yokohama (TUY). Selain itu, pria kelahiran 1951 tersebut saat ini masih terdaftar sebagai prosefor di almameternya, School of International Liberal Studies (SILS) Waseda University, serta profesor tamu di Venice International University, Italia.
Otak arek Suroboyo itu memang brilian. Dia berhasil menggabungkan empat disiplin ilmu berbeda. Hal tersebut terungkap dari empat gelar doktor yang diperolehnya. Yakni, bidang applied electronic engineering di Tokyo Institute of Technology, medical science dari Tohoku University, dan pharmacy science di Science University of Tokyo. Yang terakhir adalah doktor bidang ilmu pendidikan di almamater sekaligus tempatnya mengajar, Waseda University. “Sistem pendidikan di sini (Indonesia) sudah tertinggal jauh”. Satu penemuannya bernama NEDO (The New Energy and Industrial Technology Development Organization) memberinya penghormatan sebagai penelitian puncak di Jepang dalam rentang 20 tahun, 1987-2007.
| Copyright © 2013 Indonesia Paradise