Peneliti pertanian tropis dan salah satu pelopor mixed
farming yang mengabdikan hampir seluruh hidupnya di desa ini, sekitar tahun
2000 berhasil menemukan varietas kedelai baru yang memiliki produktifitas yang
tinggi, mencapai 3,4 ton per hektar (salah satu yang tertinggi di daerah tropis
secara internasional ), dibandingkan rata- rata nasional yang hanya 1,3 ton per
hektar.
Kedelai ini memiliki ukuran besar, protein yang tinggi (43,9
%), umur yang pendek (72 hari), dan memiliki kemampuan adaptasi yang baik di
daerah tropis bila ditanam dengan best practice yang beliau kembangkan. Hasil
pemurnian bertahun- tahun dalam keadaan yang terkontrol, pada akhirnya
menghasilkan dua varietas kedelai unggul, yang pertama telah diserahkan kepada
pemerintah daerah dan di daftarkan menjadi benih kedelai unggul nasional dengan
nama Kedelai Grobogan, sedang varietas yang lain belum didaftarkan.
Selain kedelai, beliau juga menemukan konsep sumur resapan
komunal untuk memanen air hujan di lahan persawahan serta metode optimalisasi
tanaman subtropis di daerah tropis seperti ketela pohon, jagung, dan kedelai.
Petani Terus-menerus Miskin
YOGYAKARTA-Indonesia adalah negara agraris. Sebagian besar
penduduk, atau lebih dari 60%, mengandalkan hidup dari sektor pertanian.
Padahal, rata-rata kepemilikan lahan pertanian, terutama di Jawa, kurang dari
0,3 ha.
Kepemilikan lahan sempit ditambah sistem pertanian yang
masih mengandalkan masukan produksi tinggi menyebabkan petani berada dalam
lingkaran kemiskinan tak putus-putus.
''Dengan pendapatan rendah itu, petani tak dapat menabung,
meningkatkan pendidikan, dan keterampilan. Apalagi melakukan investasi untuk
meningkatkan produksi,'' ujar Direktur Eksekutif Small and Medium Enterprises
Development Centre (SMEDC) UGM Yogyakarta, Dr Ir Ali Agus DAA DEA.
Dia menyatakan perlu jalan keluar yang bijaksana dengan
membangun paradigma baru sistem pertanian berwawasan ekologis, ekonomis, dan
berkesinambungan.
Sistem itu diarahkan untuk memperpanjang siklus biologis
dengan memanfatkan hasil samping pertanian dan peternakan. Yakni, setiap mata
rantai siklus menghasilkan produk baru yang memiliki nilai ekonomis.
Lahan Marginal
Diharapkan dalam sistem itu pemberdayaan dan pemanfaatan
lahan marginal yang masih terbentang luas di seluruh Tanah Air dapat lebih
dioptimalkan. Mencermati hal itu, SMEDC UGM yang didukung para konsultan yang
ahli dan berpengalaman di bidang agrobisnis, ekonomi, dan sumber daya manusia
menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan teknis manajemen mix-farming berbasis
agrobisnis peternakan sapi.
Pendidikan dan latihan itu diadakan di Inna Hotel Yogyakarta
sampai dengan 7 Mei 2004. Peserta adalah pemimpin dinas
pertanian/peternakan/tananam pangan daerah, dinas koperasi daerah, ketua
bappeda, kepala bagian perekonomian daerah, pemimpin dan anggota DPRD, pemimpin
dan staf PUKK/PKBL BUMN, serta calon pengusaha di bidang agrobisnis dan
perbankan.














No comments: