Disiplin, tidak pelit ilmu dan
selalu mencari inovasi baru tanpa kenal waktu. Mungkin itulah sebagian karakter
yang ada dalam diri guru besar tuner Indonesia, almarhum Michael Iskandar.
Kakek yang biasa disapa Om Chia ini banyak melahirkan inovasi dan trik-trik
mengorek mesin motor. Bahkan menjelang tutup usia, dirinya sempat menghasilkan
karya dan transfer ilmu kepada generasi muda balap motor Indonesia.
Berkarya dengan sepenuh hati
dengan tujuan memajukan dunia balap Indonesia sekaligus mentransfer ilmunya
kepada generasi muda, tak pernah sedikitpun terbesit rasa lelah diwajahnya
kendati dirinya telah memasuki usia senja. Bahkan sebelum Yang Maha Kuasa
memanggil nya saat tubuhnya tergolek lemah di ranjang rumah sakit, dirinya
masih bisa bekarya dan memberikan ilmunya kepada rekan-rekanya.
Seluruh karyanya murni keluar
dari otaknya dengan perhitungan yang matang. Bukan asal tebak, namun semuanya
merupakan hasil penghitungan dan rekayasa teknis yang mengacu pada rumusan
motor bakar.
Sejak tahun 1949, Om Chia menjadi
pembalap yang membawa bendera Suzuki. Loyalitasnya pada profesi yang dijalani
melahirkan keparcayaan dah hasil yang maksimal. Hingga akhirnya pada tahun
60-an Om Chia berputar haluan, namun tetap dalam koridor dunia balap dengan
menjadi mekanik. Sejak saat itu, karirnya terus meningkat dan terus berkreasi
sesuai iklim balap Indonesia dan mengawal berbagai pembalap tanah air.
Namanya yang dikenal sebagai
pembalap Suzuki ditahun 1949, kemudian berlanjut menjadi bagian tim riset balap
motor Suzuki di tahun 1963 dan juga sebagai tokoh dibelakang suksesnya prestasi
balap motor Indonesia.
Hasil riset nya berhasil membawa
Suzuki Shogun dan Smash menjadi momok yang menakutkan bagi lawannya di balapan
Indoprix, bersama Tim Suzuki TOP1 BRT SHC FDR Chia Felix. Selain itu, Om Chia
juga pernah menyabet gelar Juara Asia pada 2008 silam bersama pembalapnya Owie
Nurhuda.
Dimasa hidupnya, pria yang
memiliki nama kecil Tjia Guan Hong ini dikenal sebagai orang yang paling rapi
dalam segala hal. Bahkan saat dirinya bekerja dengan baju berwarna putih, bisa
dipastikan nyaris tak ada kotoran sedikitpun yang menempel di bajunya.
Dan yang mungkin tak diketahui
banyak orang, masa muda Om Chia pernah menjadi anak band. Ya, selain jago
ngoprek mesin motor, Om Tjia juga jago memainkan alat musik gitar dan ukulele.
Bahkan hampir tiap malam minggu, Om Chia tidak pernah absen untuk menggelar
pertunjukan internal bersama rekan-rekannya.
Om Chia mulai sakit-sakitan
setelah ditinggal sang Isteri tercinta, Maria Elisabeth pada tahun 2009 silam.
Hingga akhirnya Om Chia mengehembuskan nafas terakhirnya di RS Prima Medika
Denpasar, Bali, setelah sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Kake 11 cucu ini menghembuskan
nafas terakhirnya diusia yang ke 84 tahun karena menderita komplikasi kanker
prostat pada 4 Mei 2010 silam di Denpasar, Bali. Jenazah Om Chia dimakamkan di
pemakaman Sandiego Hill, Karawang Barat.
Tak banyak dan bahkan mungkin tak
ada orang yang mampu menggantikan dirinya dalam dunia balap tahan air. Prinsip
berbagi ilmu yang selalu dipegangnya, membuat dirinya terus berusaha mencari
inovasi baru.
Menurut sang guru besar yang kini
telah meninggalkan insan otomotif Indonesia untuk selamanya, jangan pernah
pelit berbagi ilmu kepada siapa pun, termasuk pada kompetitor sekalipun. Karena
dengan kemampuan dan ilmu kompetitor yang bertambah akan memacu kita untuk
terus mencari inovasi untuk terus berada diatas kompetitor. Sehingga tak ada
ilmu yang monoton atau tertahan di satu pihak saja.
Segala sukses yang diraihnya
merupakan hasil kerja keras yang dipadukan dengan sifat mandiri, disiplin dan
loyalitasnya pada pekerjaan.
Sejak kepergian Om Chia, dunia
motorsport Indonesia berduka karena kehilangan salah satu putra terbaiknya yang
dikenal piawai dalam hal riset dan pengembangan mesin balap motor under bone.
Catatan sejarah kiprahnya dalam dunia balap motor Indonesia ini mungkin hanya
secuil dari jutaan kisah tentang diri Almarhum. Masih banyak dan sangat banyak
yang belum dituliskan untuk mengenang dan mengabadikan nama sang Guru Besar,
Michael Iskandar atau Om Chia.













No comments: